Biokonservasi
Konservasi walet melalui pawang walet (adat coek
umpung cicem)
OLEH:
Aynun Marliah
Cut Bidin (Ktua)
Devi Sari
Mulya
Suri Kartina
DOSEN PEMBIMBING :
Dr. Evi Apriana,M.Pd

FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
SERAMBIH MEKKAH
BANDA
ACEH
2013
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Burung Walet merupakan burung pemakan serangga yang bersifat aerial dan
suka meluncur. Burung ini berwarna gelap, terbangnya cepat dengan ukuran tubuh
sedang/kecil, dan memiliki sayap berbentuk sabit yang sempit dan runcing,
kakinya sangat kecil begitu juga paruhnya dan jenis burung ini tidak pernah
hinggap di pohon. Burung walet mempunyai kebiasaan berdiam di gua-gua atau
rumah-rumah yang cukup lembab, remang-remang sampai gelap dan menggunakan
langit langit untuk menempelkan sarang sebagai tempat beristirahat dan berbiak,
burung walet juga berkembang biak sepanjang tahun. Susunan alat reproduksinya
tidak berbeda dengan susunan lainnya. Musim berbiak walet biasanya ditandai
dengan banyaknya kawanan walet yang saling
berkejaran.walet juga memilih musim kawin dan berbiak menjelang musim
hujan. Hal ini dikarenakan pada musim hujan populasi serangga sebagai bahan
makanan walet yang melimpah.
Walet sebenarnya adalah burung penghuni gua yang gelap, walet banyak
ditemukan dindonesia antara lain yang terletak di daerah kebumen gua karang
borongi gua pasir,dan gua karang duwur. Lokasi gua tersebut juga terdapat
dikalimantan timur, Kalimantan barat, aceh, Sumatra utara dan Sumatra selatan, akan
tetapi diduga bahwa walet tersebar merata di seluruh daerah Indonesia karena
kondisi alamnya yang cocok.
Dengan mempelajari sifat – sifat walet dan cara kehidupan yang diinginkan, kita
dapat mengatasi kesulitan – kesulitan dan keberhasilan beberapa pengusaha walet
dapat diterapkan asalkan tekun.
B.
TUJUAN
1.
Untuk mengetahui
habitat yang alami di tinjau dari factor biokonservasi di Naga Umbang
C.
MANFAAT
Hasil kunjungan lapangan ini diharapkan dapat memberikan manfaat
bagi ilmu pengetahuan dan akedemisi. Pengembangan ilmu pengetahuan Manfaat nya
dapat menambah wawasan mengenai pengelolaan burung walet dihabitat alami. Sebagai
penambah wawasan
BAB II
LANDASAN TEORITIS
1. Deskripsi Burung Walet
Keberadaan burung walet (Collocalia fushipaga) serta keistimewaan
sarangnya sudah dikenal sejak ratusan tahun silam. Walet menyukai terbang
tinggi dan kurang suka berputar-putar di tempat yang rendah. Tubuh walet
mempunyai panjang badan dari kepala sampai ekor sekitar 15cm. Panjang sayap
walet sekitar 9 cm. Bentangan sayap walet dari ujung sayap yang satu ke ujung
sayap yang lainnya adalah sekitar 26 cm. Khasiat sarang walet bagi kesehatan
tubuh dipopulerkan oleh orang Cina sejak Dinasti Ming.
Harga sarang burung walet relatif tinggi, selain karena khasiatnya
yang istimewa, tetapi juga karena sulit diperoleh. Pada awalnya, walet hidup
secara alami di gua-gua. Sejalan dengan perkembangannya, manusia membuat rumah
untuk tempat tinggal walet. Di habitat
alaminya, walet tinggal
dia gua-gua pantai berkarang yang
terjal atau bukit
yang curam mulai
dari dataran rendah sampai
ketinggian 600 m dpl.Di dalam gua, walet jantan dan betina akan membuat sarang
secara bergantian dengan
menggunakan air liurnya.
Pembuatan sarang bertujuan agar pasangan walet dapat kawin setelah
pembuatan sarang selesai dibuat.
Walet biasanya berkembang
biak pada bulan September-April. Bulan-bulan tersebut merupakan musim hujan
sehingga suhu udara rendah dan kelembapannya tinggi, makanan berupa serangga
pun berlimpah. Sarang walet dibuat di langit-langit gua yang tinggi dan gelap.
Keberadaan sarang di langit-langit gua ini disebabkan kebiasaan
walet yang membuat
sarang sambil mengelantung. Selain itu, walet meletakkan sarangnya
dilangit-langit yang tinggi agar terhindar dari binatang peganggu dan cahaya.
Memperhatikan factor habitat, kebiasaan hidup, dan kesulitan
memanen sarang walet
maka orang mulai
memikirkan untuk membuat rumah
sebagai tempat tinggal walet. Kondisi rumah walet, diupayakan semirip mungkin
dengan kondisi gua di alam sehinggawalet mau tinggal di dalamnya. Bagi
pengusaha atau pengelola rumah walet, upaya memindahkan habitat walet dari gua
ke rumah ini terutama karena tergiur harga sarang walet yang mahal, pengelolaan
yang lebih mudah, dan kualitas sarang yang lebih bagus.
Walet akan memilih tempat bersarang, misalnya, dirumah penduduk
yang kondisi iklim mikro dalam rumah tersebut cocok atau sesuai dengan habitat
mikro walet. Namun, suatu saat karena suatu hal bisa saja walet-walet tersebut
pindah ke rumah lain yang dirasa lebih baik. Jadi, walet akan dating dan pergi
semaunya sendiri. Yang dapat dilakukan manusia adalah mengupayakan agar
burung-burung walet tersebut mau tinggal didalam gedung dan berkembang biak
didalamnya dengan cara-cara sebagai berikut.
1. Membangun gedung
yang cocok atau
sesuai dengan habitat walet.
2. Mengupayakan secara
persuasive agar walet mau masuk dan bersarang di dalam rumah yang sudah
disediakan.
3. Memilih lokasi yang didukung oleh sumber makanan yang berlimpah.
4. Menjamin keamanan fisik burung dari gangguan binatang penggangu.
5. Mengupayakan agar walet
tetap kerasan tinggal dan berkembang biak di gedung tersebut, diantaranya
dengan menyediakan extra fooding (makanan tambahan).
A.
Klasifikasi
burung walet (collocalia spp)
Klasifikasi walet berdasarkan ilmu
taksonomi hewan ( system pengelompokan hewan berdasarkan bentuk tubuh dan
sifatnya ) adalah sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Fillum : Chordata
Subfillum : Vertebrata
Kelas : Aves
Ordo : Apodiformes
Familia : Apodidae
Genus : Collocalia
Spesies : collocalia spp
B.
Jenis Jenis
Burung Walet
Sebelum saya menjelaskan bagaimana cara beternak burung walet,
alangkahbaiknya kita mengenal dulu ciri-ciri, jenis-jenis, dan sifat-sifat yang
dimiliki burung walet.
Walet merupakan burung pemakan serangga yang bersifat aerial dan
suka meluncur. Burung ini berwarna gelap. Terbangnya cepat dengan ukuran tubuh
sedang. Sayapnya berbentuk sabit yang sempit dan runcing. Sayap walet sangat
kuat. Kakinya sangat kecil sehingga burung jenis ini tidak pernah hinggap di
pohon. Paruhnya sangat kecil. Walet mempunyai kebiasaan berdiam di gua-gua atau
rumah-rumah yang cukup lembab, remang-remang sampai gelap. Walet menggunakan
langit-langit untuk menempelkan sarang sebagai tempat beristirahat dan berkembang
biak.
JENIS - JENIS WALET
Ada beberapa jenis walet yang dikenal di Indonesia yang dapat
menghasilkan sarang. Namun, tidak semua sarang yang dihasilkan bisa dikonsumsi
dan memiliki khasiat. Karena kondisi lingkungan yang cocok, Indonesia memiliki
enam jenis walet.
Beberapa jenis tersebut dapat dibedakan berdasarkan ukuran tubuh,
suara, warna bulu, tingkah laku dalam membuat sarang, dan bahan yang digunakan
dalam membuat sarang. Karena burung walet gemar terbang melayang di udara,
burung waletseringdisebutburunglayang-layang.
Banyak orang berpendapat, bahwa burung sriti adalah burung layang
layang. Burung sriti yang bersarang di rumah dan sarangnya dapat dimanfaatkan
untuk menetaskan telur walet. Semula, burung ini dianggap anak jenis dari walet
sapi karena sepintas hampir sama. Bulu badan bagian atas sriti berwarna hitam
kehijauan mengkilat dan tidak memiliki bulu kecil di atas ibu jari kakinya. Sedangkan
walet sapi, bulu penutup tubuhnya berwarna hitam kebiruan mengkilat dan diatas jari
kakinya terdapat bulu kecil.
Semua jenis walet memiliki bentuk tubuh yang hampir sama. Burung
walet lebih suka menggantung pada batu-batu karang dengan menggunakan cakarnya
yang tajam dan bersarang di gua-gua atau langit-langit rumah. Oleh karena
kebiasaannya hinggap di langit-langit rumah, orang “menjaringnya” agar burung
ini mau bersarang di rumah yang didirikan.
a.
Walet putih
Walet putih, disebut demikian karena menghasilkan sarang berwarna
putih. Bulu walet ini berwarna cokelat kehitam-hitaman dengan bulu bagian bawah
keabu-abuan atau cokelat. Bulu ekor sedikit bercelah. Suaranya melengking
tinggi. Termasuk walet berukuran sedang dengan panjang tubuh sekitar 12 cm.
Mata berwarna cokelat gelap, paruh hitam, dan kaki hitam.
Sayap walet ini lebih kaku dan terbangnya juga lebih kuat. Bila ia
mencari makan jarang berputar-putar di tempat yang rendah. Walet putih lebih
suka mencari makan dekat pohon-pohon tinggi yang banyak terdapat serangga
kecil. Juga sering terlihat meluncur ke dalam air untuk mandi dan minum, lantas
terbang lagi.di alam, sarangnya terletak di celah-celah batu karang, atau gua
kapur yang sulit dicapai. Sarang tersebut seluruhnya terbuat dari air liur
sehingga harganya mahal dan sering dicari pemetik sarang burung. Telur berwarna
putih, berbentuk memanjang. Biasanya hanya bertelur dua butir. Walet putih
bersarang secara musiman, tergantung pada tempat bersarang yang dipilihnya.
b. Walet Besar
Jenis walet ini berwarna hitam dengan bulu bagian bawah cokelat
gelap. Bulu ekor agak bercelah. Suaranya keras dan berderik. Merupakan jenis
walet yang berukuran paling besar dibandingkan dengan jenis walet lainnya. Panjang tubuhnya sekitar 16 cm.
Karena sayap dan badannya lebih besar, walet ini dapat terbang
lebih tinggi dan lebih cepat. Ketika terbang, ia memangsa serangga-serangga
kecil yang menjadi makanannya. Walet besar lebih suka bersarang pada
lubang-lubang batu (gua kecil), atau pada celah-celah batu dekat air terjun.
Sarangnya tidak dapat dimakan. Sarang ini berbentuk mangkok, terbuat dari
campuran akar-akaran, lumut, dan serat-serat. Dibandingkan dengan walet jenis
lain, sarang walet besar termasuk kotor dan semrawut. Jika bertelur biasanya
hanya sebutir. Warna telur putih, bentuknya agak lonjong. Pada bulan November
dan Desember walet besar biasanya memasuki musim bersarang.
c. Walet sarang hitam
Warna bulu walet ini cokelat kehitam-hitaman dengan bulu ekor
cokelat kelabu. Bulu ekor bercelah sedikit. Walet ini kakinya berbulu merata.
Dalam hal ukuran tubuh, ia termasuk berukuran sedang. Panjang tubuhnya sekitar
12 cm. Jika dilihat sepintas, penampilannya sangat mirip walet putih. Mata
berwarna cokelat tua, paruh hitam, dan kaki hitam. Tidak seperti walet lain,
jenis ini suaranya terdengar mencicit. Walet ini juga memakan serangga-serangga
kecil yang disambarnya ketika terbang. Untuk lokasi sarang, lebih meyukai pada
gua-gua kapur. Sarangnya disebut sarang hitam karena air liur untuk membuat
sarang bercampur dengan bulu-bulu tubuhnya yang berwarna hitam. Bila bertelur
hanya sebuah. Warna telurnya putih, berbentuk memanjang. Musim kawinnya sama
dengan walet putih. Seperti halnya walet putih, walet sarang hitam juga lebih
mudah untuk dibudidayakan dibandingkan dengan jenis walet lainnya.
d.
Walet gunung
Warna burung ini hitam, tetapi warna ekornya abu-abu kehitaman.
Bulu ekor bercelah dalam. Kakinya sedikit berbulu atau tidak berbulu sama
sekali. Suaranya khas suara burung walet yang berderik. Ukuran tubuhnya
tergolong besar. Panjang tubuhnya sekitar 14 cm. burung ini terbang berkelompok
dengan cepat di dekat tebing atau puncak gunung. Serangga-serangga kecil
makanannya disantap ketika terbang. Sarang dibuat di celah-celah batu. Biasanya
sarang dibangun pada bekas kawah pegunungan. Karena terbuat dari
rumput-rumputan dan hanya sedikit atau tidak ada air liur pada bahan sarangnya,
maka sarang walet gunung tidak dapat dimakan. Pada musim kawin, biasanya
bertelur dua butir.
e.
Walet sarang lumut
Bulu burung ini berwarna cokelat kehitam-hitaman, tetapi warna ekor
lebih gelap. Ekornya hanya sedikit bercelah. Dilihat dari jauh, penampilannya
mirip dengan walet putih. Suara melengking tinggi. Tubuhnya berukuran sedang.
Panjang
tubuhnya sekitar 12 cm.
Jenis walet ini jarang dikenal orang karena sulit ditemui.
Sarangnya dibangun pada bagian-bagian gua yang lebih dalam dan sangat sukar
untuk dicapai. Kuat terbang jauh dan tinggi. Jarang sekali terbang
berputar-putar rendah dekat permukaan tanah. Sambil terbang ia langsung
memangsa serangga-serangga kecil. Sarangnya bagus dengan permukaan yang halus
dan bentuknya lebih bundar. Lumut digunakan untuk tambahan sarang sehingga
sarangnya disebut sarang lumut.
f.
Walet sapi
Walet ini berbulu hitam kebiru-biruan dengan warna yang mengkilat.
Bulu bagian bawah kelabu gelap, bagian
perut agak putih. Ekornya sedikit bercelah. Merupakan jenis walet yang
berukuran paling kecil. Panjang tubuhnya hanya sekitar 10 cm. Mata berwarna
cokelat gelap, paruh hitam, dan kaki hitam. Suaranya melengking tinggi.
Habitatnya meliputi semua ketinggian permukaan, baik pada padang rumput
berpohon terbuka atau hutan.
Walet ini jika terbang berkelompok, tetapi tidak beraturan. Walet
sapi tidak kuat terbang jauh. Biasanya terbang rendah hanya berputar-putar di
dekat permukaan tanah atau sungai untuk mandi dan minum. Bila mencari makan,
sering mengitari pohon-pohon besar dan tinggi yang banyak serangganya, terutama
tawon kecil. Sarangnya berbentuk tidak beraturan, terdiri dari campuran lumut
dan rumput yang direkatkan dengan air liurnya. Pada celah gua yang terang,
celah batu walet sapi dapat bersarang. Bila bertelur biasanya hanya dua butir.
Telurnya berwarna putih dan agak lonjong. Walet sapi bersarang tidak tergantung
pada musim, ia bisa bersarang sepanjang tahun.
b.
Kandungan Gizi
Sarang Burung Walet
|
NO
|
UNSUR
|
KADAR
|
|
1.
|
Kalori
|
281 kalori
|
|
2.
|
protein
|
37,5 gr
|
|
3.
|
lemak
|
O,3 gr
|
|
4.
|
karbohidrat
|
32,1 gr
|
|
5.
|
kalsium
|
485 mg
|
|
6.
|
fosfor
|
18 mg
|
|
7.
|
Besi
|
3 mg
|
|
8
|
Vitamin A
|
0
|
|
9.
|
Vitamin c
|
0
|
|
10.
|
Air
|
24,8 gr
|
C.
Perilaku burung walet
Burung
walet mempunyai kebiasaan berdiam di gua-gua atau rumah-rumah yang cukup
lembab,remang-remang sampai gelap dan menggunakan langit-langit untuk
menempelkan sarang sebagai tempat beristirahat dan berkembang biak.burung walet
juga berkembang sepanjang tahun.susunan alat refroduksinya tidak berbeda dengan
susunan alat reproduksi burung lainnya.musim berbiak walet biasanya di tandai
dengan banyaknya kawanan walet yang saling berkejaran.walet memilih musim kawin
dan berkembang biak menjelang musim hujan.hal ini di karenakan pada musim hujan
populasi serangga sebagai bahan makanan walet melimpah.
Dalam suatu rumah atau gua dapat dihuni oleh beberapa
kelompok walet berkelompok dalam segala kegiatan hidup. Mereka berkelompok
antara lain untuk berburu serangga bersama kehutan. Pagi hari berangkat bersama
dan sore hari pulang bersama kembali. Suatu kelompok walet akan membangun
sarang-sarang secara berdekatan pada tempat tinggalnya. Setelah seharian
mencari makan walet pulang dan lansung beristirahat disarang.
Kedua pasangan walet, jantan dan betina bekerja sama
memoleskan air liurnya membentuk sarang. Pada kerongkongan walet terdapat
sepasang kelenjar saliva yang dapat menghasilkan air liur.
D. Siklus Hidup Burung Walet
1.
Burung walet membuat
sarang hingga siap untuk ditempati bertelur
·
Pada musim hujan
diperlukan waktu sekitar 40 hari
·
Pada musim kemarau
diperlukan waktu 80 hari
2.
Proses bertelur sekitar
10 hari sebanyak 2 butir
3.
Pengeraman telur hingga
menetas diperlukan waktu sekitar 19 hari
4.
Telur menetas hingga
anak burung walet bisa terbang
·
Pada musim hujan
diperlukan waktu sekitar 40 hari
·
Pada musim kemarau
diperlukan waktu sekitar 50 hari
5. Setelah anak walet berumur 6 bulan, maka mereka sudah
membuat sarangnya sendiri. Untuk sarang yang dipanen sebelum bertelur, maka
sekitar 5 hari kemudian walet memulai membuat sarang barunya kembali.
E. Hama Walet Dan Cara Mengendalikan
Hama memang menjadi masalah klasik yang seolah tidak
bisa dihindarkan dari setiap budidaya. Berikut ini beberapa hama pengganggu dan
hewan predator yang sering mengincar
walet.
1. Serangga
·
Semut merupakan salah
satu serangga yang menganggu perkembangan anak walet yang menyebabkan kematian
anak walet. Cara mengatasinya dengan mengarisi kapur anti semut kesekeliling
dindinggua yang menuju ke sarang walet.
·
Kecoa merupakan salah
satu serangga yang gemar memakan sarang walet, sehingga menyebabkan sarang
menjadi berlubang dan rusak. Cara mengatasi nya dengan menggunakan racun kcoa
yang dapat dibeli ditoko sarana budidaya walet.
·
Tokek
Tokek suka memakan telur dan anak walet, kotoaran nya
dapat menyebabkan rumah walet tercemar. Suara yang dikeluarkan oleh tokekpun
dapat mengganggu ketenangan walet. Cara
mengatasinya dapat dilakukan dengan memangkas tanaman atau pepohonan yang ada
disekitar rumah walet.
·
Tikus
Tikus biasanya memangsa telur, anak walet dan induk
walet. Cara mengatasi nya, sediakan racun tikus kemudin letakan ditempat yang
sering dilalui tikus.
BAB III
METODE PENELITIAN
1.
Tempat Dan
Waktu Penelitian
Observasi ini
dilakukan dihabitat alami (Insitu) di Gampoeng Naga Umbang kecamatan Lhoknga,
kabupaten Aceh Besar.
2.
Alat Dan Bahan
a.
Buku tulis
b.
Kamera digital
c.
Burung walet
3.
Pengertian burung Walet (Collocalia
spp)
Merupakan salah satu satwa liar yang dapat dimanfaatkan secara
lestari untuk kesejahteraan rakyat dengan tetap menjamin keberadaan populasinya
dialam. Habitat alaminya adalah
digoa-goa alam, tebing/lereng bukit yang alam beserta lingkungannya sebagai
tempat burung wallet hidup dan berkembang biak secara alami baik didalam
kawasan hutan maupun diluar kawasan hutan.
4.
Sejarah
Pada tahun 1984 Awal mulanya
ditemukan sarang walet yang berada di Goa Uleu Desa Naga umbang Kecamatan
Lhoknga kabupaten Aceh besar di temukan oleh 4 orang yaitu Teuku Muhammad,
bekerja sama dengan Bapak Sopyan, Cut bang Budi, Bapak Basyah,dan Nyak Umar M yang
merupakan donatur nya. Sarang walet ini sudah ada sejak goa ini di temukan ,
tapi masih terbengkalai , baru kemudian dilakukan pembenahan selama 2 tahun
dengan menghabiskan dana puluhan juta. Tiga
bulan kemudian, barulah burung itu bereproduksi secara maksimal, dengan siklus
tiga bulan sekali panen. jadi, setahun empat kali panen.
Setelah burung ini bereproduksi maksimal, mereka hanya sempat
mengelola selama 2 tahun kemudian di hibahkan
ke Pak Nasrul, dari Pak Nasrul ke Mesjid Kueh kemudian ke Pak Irfan, kemudian
ke Pak Haji Amir, kemudian ke Mesjid Kueh lagi, baru kemudian balik ke Pak
Irfan lagi hingga sekarang.
5.
Cara Panen
Terdiri dari ketua kelompok dan anggota kelompok, cek sarang Walet di mulai 2 bulan sekali setelah pembiakan
anaknya, diwaktu panen sebagian anggota kelompok harus bermalam didalam Goa
selama 18 hari. Tapi jika diluar waktu panen sip jaga seminggu sekali. Jumlah
jadwal kerjanya selama 20 hari, yaitu 2 malam didarat dan 18 malam lagi didalam
Goa. Masa panennya diperoleh 3 kali dalam setahun.
6.
Sistem Bagi Hasil
Sistem panen dengan sistem
bagi rata, perolehan panen tidak tentu tergantung dari pembiakan burung
waletnya.
7.
Tugas dan
tanggung jawab panitia
Tugas dan tanggung jawab dari panitia yaitu :
v Menjaga ekosistem dari gunung mon tujoh
v Menjaga goa dan lingkungan sekitarnya
v Menaga kelestarian populasi burung walet baik berupa penjarahan dan
pencurian
v Menjaga kelestarian goa agar sesuai dengan habitat nya
v Menjaga keamanan goa sehingga tidak masuk pencuri
v Terciptanya ketertiban dan ketentraman dalam masyarakat
v Menjaga keutuhan dan kelestarian lingkungan tempat burung walet
bersarang dan berkembang biak secara alami
v Untuk menjaga dan memulihkan populasi burung walet
8.
Aturan dan tata laksana
|
Yang boleh dikerjakan
|
Tidak boleh dikerjakan
|
Sanksi
|
|
-memanfaatkan
hasil hutan untuk keperluan hidup sahari – hari
-menanam
palawija
-pemanfaatan
sarang walet
|
-membunuh binatang
-menebang pohon
-membuang sisa nasi
sembarangan
-niat jahat
-beraktivitas pada siang
maupun malam hari jumat
-tidur tidak boleh terlentang
-memelihara hewan terrnak
-membakar ban dan semak belukar
|
-kualat
-kualat
-kualat
-kualat
-kualat
-akan terasa di ceke ( di genten)
-mengudang binatang buas
- akan terganggu habitatnya
|
|
|
|
|
9.
Fungsi Panitia
Fungsi panitia adalah sebagai berikut :
v Mengontrol hasil panen
v Membiayai kebutuhan sehari – hari anggota
v Menjaga kelestarian sekitar goa
v Menjaga kelestarian burung walet
10. Upacara Adat
Upacara adat dilakukan dengan acara
kenduri dengan mengundang tengku dan
para tokoh masyarakat, biasa nya dilakukan setiap setahun sekali selesai panen.
11. Orang – orang yang terlibat
Orang – orang yang terlibat adalah
sebagai berikut:
v Panitia
v Imum mukim dan perangkapnya
v keuchik
v tuha peut
v masyarakat
12. hubungan lembaga adat dengan konservasi
·
Tidak boleh
menebang pohon di sekitar goa uleu karena akan mengakibatkan kerobohan goa karna akarpohon berfungsi untuk memperkuat / memperkokoh
lapisan goa.
·
tidak boleh
membakar ban dan semak belukar karena akan mengubah ekosistem dan keaslian
habitat burung wallet
·
mengurangi
aktivitas di sekitar goa demi kehidupan dan kenyamanan burung walet antara
lain:
a.
membuat
perapian didalam goa sarang burung wallet
b.
membuat pondok
atau bangunan disekitar goa
c.
menggunakan
peralatan dan teknik pemanenan yang dapat menganggu kehidupan nya
d.
menggunakan
bahan–bahan kimia atau bahan–bahan lain nya yang dapat menimbulkan bau–bauan
yang dapat menganggu kehidupanya
e.
melakukan
kegiatan yang dapat menyebabkan suara gaduh/rebut
13.
Indentitas
Orang yang
pertama menemukan :
Nama : Nyak Umar M
Tempat/tgllahir :
aneuk paya 15-05-1951
Jenis kelamin : laki-laki
Alamat : dusun krueng bate
Desa :lambaro kueh, kec lhoknga
Agama : islam
Pekerjaan : wiraswasta
Ketua lapangan :
Nama :
Sapriadi
Tempat/tgllahir :
lamgaboh 05-05-1980
Jenis kelamin :
laki-laki
Alamat :
lamgaboh
Desa :lamgaboh,kedebing
, kec Lhoknga, kab Aceh Besar
Agama :
islam
Pekerjaan :pengurus
sarang walet
Tidak ada komentar:
Posting Komentar