Senin, 29 Februari 2016

Biokonservasi
Konservasi walet melalui pawang walet (adat coek umpung cicem)
OLEH:
Aynun Marliah
Cut Bidin (Ktua)
Devi Sari Mulya
Suri Kartina

DOSEN PEMBIMBING :
Dr. Evi Apriana,M.Pd

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SERAMBIH MEKKAH
BANDA ACEH
2013

BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Burung Walet merupakan burung pemakan serangga yang bersifat aerial dan suka meluncur. Burung ini berwarna gelap, terbangnya cepat dengan ukuran tubuh sedang/kecil, dan memiliki sayap berbentuk sabit yang sempit dan runcing, kakinya sangat kecil begitu juga paruhnya dan jenis burung ini tidak pernah hinggap di pohon. Burung walet mempunyai kebiasaan berdiam di gua-gua atau rumah-rumah yang cukup lembab, remang-remang sampai gelap dan menggunakan langit langit untuk menempelkan sarang sebagai tempat beristirahat dan berbiak, burung walet juga berkembang biak sepanjang tahun. Susunan alat reproduksinya tidak berbeda dengan susunan lainnya. Musim berbiak walet biasanya ditandai dengan banyaknya kawanan walet yang saling  berkejaran.walet juga memilih musim kawin dan berbiak menjelang musim hujan. Hal ini dikarenakan pada musim hujan populasi serangga sebagai bahan makanan walet yang melimpah.
Walet sebenarnya adalah burung penghuni gua yang gelap, walet banyak ditemukan dindonesia antara lain yang terletak di daerah kebumen gua karang borongi gua pasir,dan gua karang duwur. Lokasi gua tersebut juga terdapat dikalimantan timur, Kalimantan barat, aceh, Sumatra utara dan Sumatra selatan, akan tetapi diduga bahwa walet tersebar merata di seluruh daerah Indonesia karena kondisi alamnya yang cocok.
Dengan mempelajari sifat – sifat walet dan cara kehidupan yang diinginkan, kita dapat mengatasi kesulitan – kesulitan dan keberhasilan beberapa pengusaha walet dapat diterapkan asalkan tekun.


B.     TUJUAN
1.      Untuk mengetahui habitat yang alami di tinjau dari factor biokonservasi di Naga Umbang





C.     MANFAAT
Hasil kunjungan lapangan ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi ilmu pengetahuan dan akedemisi. Pengembangan ilmu pengetahuan Manfaat nya dapat menambah wawasan mengenai pengelolaan burung walet dihabitat alami. Sebagai penambah wawasan  
















BAB II
LANDASAN TEORITIS
1.       Deskripsi Burung Walet
Keberadaan burung walet (Collocalia fushipaga) serta keistimewaan sarangnya sudah dikenal sejak ratusan tahun silam. Walet menyukai terbang tinggi dan kurang suka berputar-putar di tempat yang rendah. Tubuh walet mempunyai panjang badan dari kepala sampai ekor sekitar 15cm. Panjang sayap walet sekitar 9 cm. Bentangan sayap walet dari ujung sayap yang satu ke ujung sayap yang lainnya adalah sekitar 26 cm. Khasiat sarang walet bagi kesehatan tubuh dipopulerkan oleh orang Cina sejak Dinasti Ming.
Harga sarang burung walet relatif tinggi, selain karena khasiatnya yang istimewa, tetapi juga karena sulit diperoleh. Pada awalnya, walet hidup secara alami di gua-gua. Sejalan dengan perkembangannya, manusia membuat rumah untuk tempat tinggal walet.  Di   habitat  alaminya,  walet  tinggal  dia  gua-gua  pantai berkarang  yang  terjal  atau  bukit  yang  curam  mulai  dari  dataran rendah sampai ketinggian 600 m dpl.Di dalam gua, walet jantan dan betina akan membuat sarang secara  bergantian  dengan  menggunakan  air  liurnya.  Pembuatan sarang bertujuan agar pasangan walet dapat kawin setelah pembuatan sarang selesai dibuat.
 Walet biasanya berkembang biak pada bulan September-April. Bulan-bulan tersebut merupakan musim hujan sehingga suhu udara rendah dan kelembapannya tinggi, makanan berupa serangga pun berlimpah. Sarang walet dibuat di langit-langit gua yang tinggi dan gelap. Keberadaan sarang di langit-langit gua ini disebabkan    kebiasaan    walet    yang    membuat    sarang sambil mengelantung. Selain itu, walet meletakkan sarangnya dilangit-langit yang tinggi agar terhindar dari binatang  peganggu dan cahaya.
Memperhatikan factor habitat, kebiasaan hidup, dan kesulitan memanen  sarang  walet   maka   orang   mulai   memikirkan  untuk membuat rumah sebagai tempat tinggal walet. Kondisi rumah walet, diupayakan semirip mungkin dengan kondisi gua di alam sehinggawalet mau tinggal di dalamnya. Bagi pengusaha atau pengelola rumah walet, upaya memindahkan habitat walet dari gua ke rumah ini terutama karena tergiur harga sarang walet yang mahal, pengelolaan yang lebih mudah, dan kualitas sarang yang lebih bagus.
Walet akan memilih tempat bersarang, misalnya, dirumah penduduk yang kondisi iklim mikro dalam rumah tersebut cocok atau sesuai dengan habitat mikro walet. Namun, suatu saat karena suatu hal bisa saja walet-walet tersebut pindah ke rumah lain yang dirasa lebih baik. Jadi, walet akan dating dan pergi semaunya sendiri. Yang dapat dilakukan manusia adalah mengupayakan agar burung-burung walet tersebut mau tinggal didalam gedung dan berkembang biak didalamnya dengan cara-cara sebagai berikut.
1.   Membangun  gedung  yang  cocok  atau  sesuai  dengan  habitat walet.
2.  Mengupayakan secara persuasive agar walet mau masuk dan bersarang di dalam rumah yang sudah disediakan.
3. Memilih lokasi yang didukung oleh sumber makanan yang berlimpah.
4. Menjamin keamanan fisik burung dari gangguan binatang penggangu.
5.   Mengupayakan agar walet tetap kerasan tinggal dan berkembang biak di gedung tersebut, diantaranya dengan menyediakan extra fooding (makanan tambahan).
A.    Klasifikasi burung walet (collocalia spp)
Klasifikasi walet berdasarkan ilmu taksonomi hewan ( system pengelompokan hewan berdasarkan bentuk tubuh dan sifatnya ) adalah sebagai berikut:
Kingdom                           :  Animalia
Fillum                                :  Chordata
Subfillum                          : Vertebrata
Kelas                                 : Aves
Ordo                                  : Apodiformes
Familia                              : Apodidae
Genus                                : Collocalia
Spesies                              : collocalia spp



B.   Jenis Jenis Burung Walet
Sebelum saya menjelaskan bagaimana cara beternak burung walet, alangkahbaiknya kita mengenal dulu ciri-ciri, jenis-jenis, dan sifat-sifat yang dimiliki burung walet.
Walet merupakan burung pemakan serangga yang bersifat aerial dan suka meluncur. Burung ini berwarna gelap. Terbangnya cepat dengan ukuran tubuh sedang. Sayapnya berbentuk sabit yang sempit dan runcing. Sayap walet sangat kuat. Kakinya sangat kecil sehingga burung jenis ini tidak pernah hinggap di pohon. Paruhnya sangat kecil. Walet mempunyai kebiasaan berdiam di gua-gua atau rumah-rumah yang cukup lembab, remang-remang sampai gelap. Walet menggunakan langit-langit untuk menempelkan sarang sebagai tempat beristirahat dan berkembang biak.
JENIS - JENIS WALET
Ada beberapa jenis walet yang dikenal di Indonesia yang dapat menghasilkan sarang. Namun, tidak semua sarang yang dihasilkan bisa dikonsumsi dan memiliki khasiat. Karena kondisi lingkungan yang cocok, Indonesia memiliki enam jenis walet.
Beberapa jenis tersebut dapat dibedakan berdasarkan ukuran tubuh, suara, warna bulu, tingkah laku dalam membuat sarang, dan bahan yang digunakan dalam membuat sarang. Karena burung walet gemar terbang melayang di udara, burung waletseringdisebutburunglayang-layang.
Banyak orang berpendapat, bahwa burung sriti adalah burung layang layang. Burung sriti yang bersarang di rumah dan sarangnya dapat dimanfaatkan untuk menetaskan telur walet. Semula, burung ini dianggap anak jenis dari walet sapi karena sepintas hampir sama. Bulu badan bagian atas sriti berwarna hitam kehijauan mengkilat dan tidak memiliki bulu kecil di atas ibu jari kakinya. Sedangkan walet sapi, bulu penutup tubuhnya berwarna hitam kebiruan mengkilat dan diatas jari kakinya terdapat bulu kecil.
Semua jenis walet memiliki bentuk tubuh yang hampir sama. Burung walet lebih suka menggantung pada batu-batu karang dengan menggunakan cakarnya yang tajam dan bersarang di gua-gua atau langit-langit rumah. Oleh karena kebiasaannya hinggap di langit-langit rumah, orang “menjaringnya” agar burung ini mau bersarang di rumah yang didirikan.
Berikut ini adalah jenis-jenis walet yang ada di Indonesia :
a.       Walet putih
Walet putih, disebut demikian karena menghasilkan sarang berwarna putih. Bulu walet ini berwarna cokelat kehitam-hitaman dengan bulu bagian bawah keabu-abuan atau cokelat. Bulu ekor sedikit bercelah. Suaranya melengking tinggi. Termasuk walet berukuran sedang dengan panjang tubuh sekitar 12 cm. Mata berwarna cokelat gelap, paruh hitam, dan kaki hitam.
Sayap walet ini lebih kaku dan terbangnya juga lebih kuat. Bila ia mencari makan jarang berputar-putar di tempat yang rendah. Walet putih lebih suka mencari makan dekat pohon-pohon tinggi yang banyak terdapat serangga kecil. Juga sering terlihat meluncur ke dalam air untuk mandi dan minum, lantas terbang lagi.di alam, sarangnya terletak di celah-celah batu karang, atau gua kapur yang sulit dicapai. Sarang tersebut seluruhnya terbuat dari air liur sehingga harganya mahal dan sering dicari pemetik sarang burung. Telur berwarna putih, berbentuk memanjang. Biasanya hanya bertelur dua butir. Walet putih bersarang secara musiman, tergantung pada tempat bersarang yang dipilihnya.
b. Walet Besar
Jenis walet ini berwarna hitam dengan bulu bagian bawah cokelat gelap. Bulu ekor agak bercelah. Suaranya keras dan berderik. Merupakan jenis walet yang berukuran paling besar dibandingkan dengan jenis walet lainnya.  Panjang tubuhnya sekitar 16 cm.
Karena sayap dan badannya lebih besar, walet ini dapat terbang lebih tinggi dan lebih cepat. Ketika terbang, ia memangsa serangga-serangga kecil yang menjadi makanannya. Walet besar lebih suka bersarang pada lubang-lubang batu (gua kecil), atau pada celah-celah batu dekat air terjun. Sarangnya tidak dapat dimakan. Sarang ini berbentuk mangkok, terbuat dari campuran akar-akaran, lumut, dan serat-serat. Dibandingkan dengan walet jenis lain, sarang walet besar termasuk kotor dan semrawut. Jika bertelur biasanya hanya sebutir. Warna telur putih, bentuknya agak lonjong. Pada bulan November dan Desember walet besar biasanya memasuki musim bersarang.

            c. Walet sarang hitam
Warna bulu walet ini cokelat kehitam-hitaman dengan bulu ekor cokelat kelabu. Bulu ekor bercelah sedikit. Walet ini kakinya berbulu merata. Dalam hal ukuran tubuh, ia termasuk berukuran sedang. Panjang tubuhnya sekitar 12 cm. Jika dilihat sepintas, penampilannya sangat mirip walet putih. Mata berwarna cokelat tua, paruh hitam, dan kaki hitam. Tidak seperti walet lain, jenis ini suaranya terdengar mencicit. Walet ini juga memakan serangga-serangga kecil yang disambarnya ketika terbang. Untuk lokasi sarang, lebih meyukai pada gua-gua kapur. Sarangnya disebut sarang hitam karena air liur untuk membuat sarang bercampur dengan bulu-bulu tubuhnya yang berwarna hitam. Bila bertelur hanya sebuah. Warna telurnya putih, berbentuk memanjang. Musim kawinnya sama dengan walet putih. Seperti halnya walet putih, walet sarang hitam juga lebih mudah untuk dibudidayakan dibandingkan dengan jenis walet lainnya.
            d. Walet gunung        
Warna burung ini hitam, tetapi warna ekornya abu-abu kehitaman. Bulu ekor bercelah dalam. Kakinya sedikit berbulu atau tidak berbulu sama sekali. Suaranya khas suara burung walet yang berderik. Ukuran tubuhnya tergolong besar. Panjang tubuhnya sekitar 14 cm. burung ini terbang berkelompok dengan cepat di dekat tebing atau puncak gunung. Serangga-serangga kecil makanannya disantap ketika terbang. Sarang dibuat di celah-celah batu. Biasanya sarang dibangun pada bekas kawah pegunungan. Karena terbuat dari rumput-rumputan dan hanya sedikit atau tidak ada air liur pada bahan sarangnya, maka sarang walet gunung tidak dapat dimakan. Pada musim kawin, biasanya bertelur dua butir.
            e. Walet sarang lumut
Bulu burung ini berwarna cokelat kehitam-hitaman, tetapi warna ekor lebih gelap. Ekornya hanya sedikit bercelah. Dilihat dari jauh, penampilannya mirip dengan walet putih. Suara melengking tinggi. Tubuhnya berukuran sedang.
Panjang tubuhnya sekitar 12 cm.
Jenis walet ini jarang dikenal orang karena sulit ditemui. Sarangnya dibangun pada bagian-bagian gua yang lebih dalam dan sangat sukar untuk dicapai. Kuat terbang jauh dan tinggi. Jarang sekali terbang berputar-putar rendah dekat permukaan tanah. Sambil terbang ia langsung memangsa serangga-serangga kecil. Sarangnya bagus dengan permukaan yang halus dan bentuknya lebih bundar. Lumut digunakan untuk tambahan sarang sehingga sarangnya disebut sarang lumut.
            f. Walet sapi   
Walet ini berbulu hitam kebiru-biruan dengan warna yang mengkilat. Bulu bagian  bawah kelabu gelap, bagian perut agak putih. Ekornya sedikit bercelah. Merupakan jenis walet yang berukuran paling kecil. Panjang tubuhnya hanya sekitar 10 cm. Mata berwarna cokelat gelap, paruh hitam, dan kaki hitam. Suaranya melengking tinggi. Habitatnya meliputi semua ketinggian permukaan, baik pada padang rumput berpohon terbuka atau hutan.
Walet ini jika terbang berkelompok, tetapi tidak beraturan. Walet sapi tidak kuat terbang jauh. Biasanya terbang rendah hanya berputar-putar di dekat permukaan tanah atau sungai untuk mandi dan minum. Bila mencari makan, sering mengitari pohon-pohon besar dan tinggi yang banyak serangganya, terutama tawon kecil. Sarangnya berbentuk tidak beraturan, terdiri dari campuran lumut dan rumput yang direkatkan dengan air liurnya. Pada celah gua yang terang, celah batu walet sapi dapat bersarang. Bila bertelur biasanya hanya dua butir. Telurnya berwarna putih dan agak lonjong. Walet sapi bersarang tidak tergantung pada musim, ia bisa bersarang sepanjang tahun.

b.      Kandungan Gizi Sarang Burung Walet
NO
UNSUR
KADAR
1.
Kalori
281 kalori
2.
protein
 37,5 gr
3.
lemak
O,3 gr
4.
karbohidrat
32,1 gr
5.
kalsium
485 mg
6.
fosfor
18 mg
7.
Besi
3 mg
8
Vitamin A
0
9.
Vitamin c
0
10.
Air
24,8 gr


C.      Perilaku burung walet
Burung walet mempunyai kebiasaan berdiam di gua-gua atau rumah-rumah yang cukup lembab,remang-remang sampai gelap dan menggunakan langit-langit untuk menempelkan sarang sebagai tempat beristirahat dan berkembang biak.burung walet juga berkembang sepanjang tahun.susunan alat refroduksinya tidak berbeda dengan susunan alat reproduksi burung lainnya.musim berbiak walet biasanya di tandai dengan banyaknya kawanan walet yang saling berkejaran.walet memilih musim kawin dan berkembang biak menjelang musim hujan.hal ini di karenakan pada musim hujan populasi serangga sebagai bahan makanan walet melimpah.
Dalam suatu rumah atau gua dapat dihuni oleh beberapa kelompok walet berkelompok dalam segala kegiatan hidup. Mereka berkelompok antara lain untuk berburu serangga bersama kehutan. Pagi hari berangkat bersama dan sore hari pulang bersama kembali. Suatu kelompok walet akan membangun sarang-sarang secara berdekatan pada tempat tinggalnya. Setelah seharian mencari makan walet pulang dan lansung beristirahat disarang.
Kedua pasangan walet, jantan dan betina bekerja sama memoleskan air liurnya membentuk sarang. Pada kerongkongan walet terdapat sepasang kelenjar saliva yang dapat menghasilkan air liur.
D.    Siklus Hidup Burung Walet
1.      Burung walet membuat sarang hingga siap untuk ditempati bertelur
·         Pada musim hujan diperlukan waktu sekitar 40 hari
·         Pada musim kemarau diperlukan waktu 80 hari
2.      Proses bertelur sekitar 10 hari sebanyak 2 butir
3.      Pengeraman telur hingga menetas diperlukan waktu sekitar 19 hari
4.      Telur menetas hingga anak burung walet bisa terbang
·         Pada musim hujan diperlukan waktu sekitar 40 hari
·         Pada musim kemarau diperlukan waktu sekitar 50 hari
5.      Setelah anak walet berumur 6 bulan, maka mereka sudah membuat sarangnya sendiri. Untuk sarang yang dipanen sebelum bertelur, maka sekitar 5 hari kemudian walet memulai membuat sarang barunya kembali.
E.     Hama Walet Dan Cara Mengendalikan
Hama memang menjadi masalah klasik yang seolah tidak bisa dihindarkan dari setiap budidaya. Berikut ini beberapa hama pengganggu dan hewan predator yang sering mengincar  walet.
1.      Serangga
·         Semut merupakan salah satu serangga yang menganggu perkembangan anak walet yang menyebabkan kematian anak walet. Cara mengatasinya dengan mengarisi kapur anti semut kesekeliling dindinggua yang menuju ke sarang walet.
·         Kecoa merupakan salah satu serangga yang gemar memakan sarang walet, sehingga menyebabkan sarang menjadi berlubang dan rusak. Cara mengatasi nya dengan menggunakan racun kcoa yang dapat dibeli ditoko sarana budidaya walet.

·         Tokek
Tokek suka memakan telur dan anak walet, kotoaran nya dapat menyebabkan rumah walet tercemar. Suara yang dikeluarkan oleh tokekpun dapat mengganggu  ketenangan walet. Cara mengatasinya dapat dilakukan dengan memangkas tanaman atau pepohonan yang ada disekitar rumah walet.
·         Tikus
Tikus biasanya memangsa telur, anak walet dan induk walet. Cara mengatasi nya, sediakan racun tikus kemudin letakan ditempat yang sering dilalui tikus.










BAB III
METODE PENELITIAN
1.      Tempat Dan Waktu Penelitian
Observasi ini dilakukan dihabitat alami (Insitu) di Gampoeng Naga Umbang kecamatan Lhoknga, kabupaten Aceh Besar.
2.      Alat Dan Bahan
a.       Buku tulis
b.      Kamera digital
c.       Burung walet









3.      Pengertian burung Walet (Collocalia spp)
Merupakan salah satu satwa liar yang dapat dimanfaatkan secara lestari untuk kesejahteraan rakyat dengan tetap menjamin keberadaan populasinya dialam. Habitat alaminya adalah digoa-goa alam, tebing/lereng bukit yang alam beserta lingkungannya sebagai tempat burung wallet hidup dan berkembang biak secara alami baik didalam kawasan hutan maupun diluar kawasan hutan.
4.      Sejarah
Pada tahun 1984 Awal  mulanya ditemukan sarang walet yang berada di Goa Uleu Desa Naga umbang Kecamatan Lhoknga kabupaten Aceh besar di temukan oleh 4 orang yaitu Teuku Muhammad, bekerja sama dengan Bapak Sopyan, Cut bang Budi, Bapak Basyah,dan Nyak Umar M yang merupakan donatur nya. Sarang walet ini sudah ada sejak goa ini di temukan , tapi masih terbengkalai , baru kemudian dilakukan pembenahan selama 2 tahun dengan menghabiskan dana puluhan juta.  Tiga bulan kemudian, barulah burung itu bereproduksi secara maksimal, dengan siklus tiga bulan sekali panen. jadi, setahun empat kali panen.
Setelah burung ini bereproduksi maksimal, mereka hanya sempat mengelola selama 2 tahun kemudian  di hibahkan ke Pak Nasrul, dari Pak Nasrul ke Mesjid Kueh kemudian ke Pak Irfan, kemudian ke Pak Haji Amir, kemudian ke Mesjid Kueh lagi, baru kemudian balik ke Pak Irfan lagi hingga sekarang.
5.   Cara Panen
Terdiri dari ketua kelompok dan anggota kelompok, cek sarang  Walet di mulai 2 bulan sekali setelah pembiakan anaknya, diwaktu panen sebagian anggota kelompok harus bermalam didalam Goa selama 18 hari. Tapi jika diluar waktu panen sip jaga seminggu sekali. Jumlah jadwal kerjanya selama 20 hari, yaitu 2 malam didarat dan 18 malam lagi didalam Goa. Masa panennya diperoleh 3 kali dalam setahun.
6.   Sistem  Bagi Hasil
Sistem panen dengan sistem  bagi rata, perolehan panen tidak tentu tergantung dari pembiakan burung waletnya.
7.      Tugas dan tanggung jawab panitia
Tugas dan tanggung jawab dari panitia yaitu :
v  Menjaga ekosistem dari gunung mon tujoh
v  Menjaga goa dan lingkungan sekitarnya
v  Menaga kelestarian populasi burung walet baik berupa penjarahan dan pencurian
v  Menjaga kelestarian  goa  agar sesuai dengan habitat nya
v  Menjaga keamanan goa sehingga tidak masuk pencuri
v  Terciptanya ketertiban dan ketentraman dalam masyarakat
v  Menjaga keutuhan dan kelestarian lingkungan tempat burung walet bersarang dan berkembang biak secara alami
v  Untuk menjaga dan memulihkan populasi burung walet
8.       Aturan dan tata laksana
Yang boleh dikerjakan
Tidak boleh dikerjakan
Sanksi
-memanfaatkan hasil hutan untuk keperluan hidup sahari – hari

-menanam palawija

-pemanfaatan sarang walet




-membunuh binatang

-menebang pohon

-membuang sisa nasi
sembarangan

-niat jahat

-beraktivitas pada siang
maupun malam hari jumat

-tidur tidak boleh terlentang

-memelihara hewan terrnak

-membakar ban dan semak belukar
-kualat

-kualat

-kualat


-kualat

-kualat


-akan terasa di ceke ( di genten)
-mengudang binatang buas
- akan terganggu habitatnya




9.      Fungsi Panitia
Fungsi panitia adalah sebagai berikut :
v  Mengontrol hasil panen
v  Membiayai kebutuhan sehari – hari anggota
v  Menjaga kelestarian sekitar goa
v  Menjaga kelestarian burung walet

10.  Upacara Adat
            Upacara adat dilakukan dengan acara kenduri dengan mengundang tengku  dan para tokoh masyarakat, biasa nya dilakukan setiap setahun sekali selesai panen.

11.  Orang – orang yang terlibat
            Orang – orang yang terlibat adalah sebagai berikut:
v Panitia
v Imum mukim dan perangkapnya
v keuchik
v tuha peut
v  masyarakat
12.  hubungan lembaga adat dengan konservasi
·         Tidak boleh menebang pohon di sekitar goa uleu karena akan mengakibatkan kerobohan goa  karna akarpohon  berfungsi untuk memperkuat / memperkokoh lapisan goa.
·         tidak boleh membakar ban dan semak belukar karena akan mengubah ekosistem dan keaslian habitat burung wallet
·         mengurangi aktivitas di sekitar goa demi kehidupan dan kenyamanan burung walet antara lain:
a.       membuat perapian didalam goa sarang burung wallet
b.      membuat pondok atau bangunan disekitar goa
c.       menggunakan peralatan dan teknik pemanenan yang dapat menganggu kehidupan nya
d.      menggunakan bahan–bahan kimia atau bahan–bahan lain nya yang dapat menimbulkan bau–bauan yang dapat menganggu kehidupanya
e.       melakukan kegiatan yang dapat menyebabkan suara gaduh/rebut

13.  Indentitas
Orang yang pertama menemukan :
Nama                           : Nyak Umar M
Tempat/tgllahir            : aneuk paya 15-05-1951
Jenis kelamin               : laki-laki
Alamat                                    : dusun krueng bate
Desa                            :lambaro kueh, kec lhoknga
Agama                         : islam
Pekerjaan                     : wiraswasta 
Ketua lapangan :
Nama                           : Sapriadi
Tempat/tgllahir            : lamgaboh 05-05-1980
Jenis kelamin               : laki-laki
Alamat                                    : lamgaboh
Desa                            :lamgaboh,kedebing , kec Lhoknga, kab Aceh Besar
Agama                         : islam

Pekerjaan                     :pengurus sarang walet

Tidak ada komentar:

Posting Komentar